RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH II : HIDUP BAHAGIA

0
154
Foto Berita
Foto Ilustrasi Keluarga Bahagia

Oleh : P. Gregor Neonbasu SVD

FOCUS NEWS INDONESIA.COM – KUPANG. Di mana-mana, orang selalu ingin bahagia. Sebetulnya inti ke-bahagia-an tidak pada ‘yang kelihatan’, melainkan pada ‘apa yang ada dalam hati manusia’. Dalam konteks bacaan-bacaan hari ini, kunci kebahagiaan ada pada ‘jika kita selalu hidup bersama Tuhan’ dan dengan ikhlas melayani sesama dengan hati!

Pada bacaan pertama ‘kebahagiaan’ dilukis dengan peristiwa Perjanjian Abraham dengan Allah, yakni sebuah penyertaan Rahmat dan kekuatan Allah, yang ditandai dengan banyaknya keturunan. Antropologi Ibrani selalu menempatkan ‘banyak turunan’ atau ‘banyak anak’ sebagai bukti otentik mengenai Allah yang selalu berada dekat dengan manusia. Ketika Allah dekat dengan manusia, terbit kebahagiaan di ufuk setiap kehidupan. Pada saat Allah tinggal bersama manusia, hidup dan karyanya menjadi bermartabat oleh karena segala yang dilakukan manusia selalu berkenan di Hati Allah dan sesama.

Dalam bacaan kedua, Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi menggambarkan Kristus yang mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia. Di sini jugalah terdapat inti kebahagiaan manusia, oleh karena proses perubahan itu tidak dapat diinderai, namun selalu perlahan-lahan berkarya dari dalam hati manusia yang percaya. Perubahan dalam diri manusia tidak saja atas dasar ‘memenuhi’ kebutuhan jasmani semata, melainkan berusaha memenuhi kebutuhan rohani, antara lain ‘hidup bersama Allah’ dan dekat dengan sesama.

Bacaan Injil menunjuk inti kebahagiaan yang dimaksud, yakni ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajahNya berubah. Seketika para murid meminta izin untuk mendirikan tiga buah kemah dan tetap bertahan di atas gunung oleh karena mereka sungguh berbahagia bersama, dan seketika mereka menyaksikan pakaianNya menjadi putih berkilau-kilauan. Hakekat berada bersama Tuhan selalu ‘merubah segala’ menjadi lain dari yang lain; yang biasa berubah rupa menjadi ‘menarik’; yang sederhana berubah menjadi sungguh mulia; yang lazim menjadi sesuatu yang senantiasa tidak mudah ditemukan oleh karena sering tidak difahami secukupnya; sesuatu yang alami…. namun justru menjadi rohani dan tiada henti menarik manusia untuk terus mencari demi memenuhi hasrat jiwa.

Saudara dan saudariku terkasih dalam Kristus. Sekurang-kurangnya ada dua kelompok sahabatku yang mengirim sms karena terkesan dengan citra hidup Uskup Via Dolorosa Mgr Gabriel Manek SVD dalam renungan kemarin. Uskup Via Dolorosa selalu dengan tekun membangun hidup dan karyanya bersama Allah, dan diantara sesama.

(1) Kelompok yang satu memberi catatan mengenai ‘kekuatan’ dari doa tikam, doa sederhana dari praktek yang sangat tua, doa itu amat melekat dalam peri hidup kelompok tua, dan juga mereka yang masih akrab dengan ajaran katekismus masa silam. Doa itu disusun sedemikian mudah, tidak ada unsur teologi yang tinggi-tinggi, juga bukan disari dari refleksi spiritual yang serba hebat. Namun sangat menukik pada hati, berlandas pada bathin… tempat ada hasrat dan rasa rindu sesuai ajaran agama zaman para guru agama dulu. Doa tikam itu, ungkap sahabatku, sangat mendalam oleh karena ‘orang yang mengujarnya’ sungguh-sungguh merasa lain dari lain tersebab oleh karena ‘ia sangat dekat’ dengan Wajah Tuhan. “Ia berjumpa dengan Allah ketika mendaras kata-kata doa tikam tersebut”, tukasnya!

Karena itu ketika ia menyucap kata-kata “doa tikam’, hatinya benar-benar dijamah oleh Tangan Kasih Tuhan sendiri. Untuk itu, kepada para Suster PRR, Uskup Via Dolorosa terus meminta mereka untuk tiada henti mengucap doa tikam tersebut. Doa tikam inilah yang memberi paradigma berpikir baru; doa tikam yang sama selalu memberi pembaruan orientasi; doa tikam itu juga yang terus membimbing kepada jalan Tuhan; dan doa tikam ini selalu ‘tiada henti’ memberi inspirasi untuk ‘dekat hanya pada Kehendak Tuhan’. Doa tikam yang sama mengandung awasan kepada si pengucap untuk tidak memilih jalannya sendiri. Doa tikam ini selalu pula  meneguhkan hati dan mendorong kepada karya-karya  pelayanan dengan hati!

(2) Kelompok sahabatku yang lain langsung meminta gambar dan doa Uskup Via Dolorosa Mgr Gabriel Manek SVD. Kepada mereka kukirim gambar Uskup Orang Miskin yang lazim digunakan barisan SMGM, untuk menyusun ‘karya-karya kecil’ melayani orang-orang bernasib sial dan sederhana.

Saudara dan saudariku terkasih dalam Kristus. Masing-masing kita dipanggil untuk hidup bahagia; setiap kita diberi anugerah dan rahmat untuk mencari kebahagiaan. Banyak kali kita mencari di tempat yang salah oleh karena kebahagiaan yang dijumpai tidak berhasil memenuhi hasrat hati. Kualitas kebahagiaan yang ditemukan dari hasil kerja kita ‘banyak kali’ tidak memuaskan oleh karena kita tidak melibatkan Tuhan ketika sedang ‘sibuk bekerja’. Banyak kali kita kerja keras, namun kita kurang cerdas oleh karena kita lupa ‘kunci’ dan ‘akar’.

‘Kunci hidup bahagia’ ada pada ‘hidup bersama Allah’ dan ‘hidup di antara sesama yang menderita’. Akar hidup bahagia ada pada ‘hidup dengan Allah’ dan setia melihat sesama sebagai jati diri sendiri. Para barisan SMGM semakin gencar mengikuti komandannya mencari Hidup Yang Bahagia” melalui karya pelayanan di antara orang-orang sederhana; mereka membangun hidup bahagia bersama orang-orang kecil dan terlantar; mereka mendirikan rumah bersama Tuhan dalam hati orang-orang terbuang; mereka menata kemah-kemah di setiap jalan terjal yang sulit dilewati.

Awas, karya pelayanan di antara orang-orang sederhana tidak mengganti waktu untuk berdoa. Karena itu para serdadu SMGM mengatur waktu ‘di sela-sela melayani’ untuk berdoa, mengikuti aturan-aturan berjumpa dengan Sabda dalam berbagai kesempatan sharing, novena, doa rosario, dan selaksa kegiatan rohani yang disusun dengan sederhana dan sangat rapih. Wajah Yesus yang berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan selalu terlihat di segala sudut karya pelayanan di antara orang-orang miskin yang tidak memiliki harapan masa depan yang baik! Tuhan, Musa dan Elia selalu menunjukkan diri dalam kemuliaan ‘di setiap sudut karya’ di tengah kelompok yang bernasib “tidak untung” oleh karena disingkirkan dari modernisme dan berbagai kemajuan jaman.

Mgr  Via Dolorosa Gabriel Manek SVD… mintalah kekuatan Roh Kudus agar sudi menerangi semua karya pelayanan kami setiap hari!  (Minggu Prapaskah II, 13 Maret 2022 (Tahun C)

Sumber Bacaan : Kej 15: 5-12.17-18; Flp 3: 17-4: 1; Luk 9: 28b-36

Doaku dan berkat bagimu

Gregor Neonbasu SVD

Soverdi Oebufu Kupang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here