AKHIRI KONFLIK LAHAN BESIPAE : PARA USIF DAN PEMPROV NTT TEMUI WARGA

0
1235

FOCUS NEWS INDONESIA.COM

BESIPAE TTS – Siang itu, pada Sabtu, 22/8/2020, saat matahari kian menyengat kulit, terlihat debuh beterbangan di area tenda-tenda darurat tempat tinggal 5 Keluarga  warga Besipae yang masih menempati 5 tenda warna biru di pinggiran jalan menuju arah Kolbano yang adalah ibukota Kecamatan Amanuban Selatan.

Tampak tiga orang  Usif, yaitu, Usif Gustaf Nabuasa, Usif Frans Nabuasa, Usif Nope J.D.I. Nabuasa, dan Kepala Badan Aset Daerah Provinsi NTT yang mewakili Pemrov NTT, DR.Sony Zeth Libing, M.SI, didampingi Dandim 1621 TTS, Letnan Kolonel, CZI Koerniawan. P, Camat Amanuban Selatan , Yahanes Asbanu, Kasat Pol PP Prov NTT, IR. Cornelis Wadu, M.SI,  Ketua GMIT Kalasis Amanuban Timur , Pendeta Yorim Y. Kause, S.TH, mereka bersama rombongan berjalan menuju 5 Keluarga Besipae yang berada di tenda-tenda biru pinggiran jalan raya  depan halaman UPT Peternakan Besipae.

Para Usif bersama Pemprov NTT dan rombongan ingin menemui 5 Keluarga  yang terkena konflik lahan Besipae tersebut untuk menyampaikan isi kesepakatan tertulis yang telah dibuat serta ingin menghimbau semua warga untuk mengakhiri  konflik lahan yang terjadi di wilayah itu.

“Kami para usif adalah orangtua kamu dan kamu semua adalah anak-anak kami. Jika kalian sakit kami juga turut sakit. Karena itu, kami bertiga datang untuk menyampaikan isi kesepakatan dengan Pemrov NTT. Kesepakatan ini dibuat untuk menjawab keinginan kalian semua menuju kebaikan bersama guna mengakhiri konflik yang terjadi,” ucap usif Gustaf Nabuasa didamping usif Frans Nabuasa dan usif Nope Nabuasa.

Mendengar ucapan Usif Gustaf, warga yang mendiami tenda-tenda  tersebut keluar dan menemui usif Gustaf. Ada warga yang tampak meneteskan air mata saat bersalaman dengan 3 usif yang datang itu.

Mewakili warga 5 tenda itu, tokoh warga Hengky Manao, mengatakan dengan senang hati menerima kedatangan para usif dan Pemprov NTT serta Para Rombongan dan bersedia mendengarkan apa yang menjadi keputusan para Usif, namun dia meminta agar 37 Keluarga yang dipermasalahkan , diberikan kesempatan sampaikan isi hati dan harapan mereka.

Menanggapi Hengky Manao, usif Gustaf meminta agar  terdahulu membacacakan isi kesepakatan yang telah dibuat bersama Pemprov NTT, lalu  memberikan kesempatan kepada warga untuk menyampaikan isi hati mereka sehingga dapat diambil jalan keluar bersama Pemprov NTT. Mendengar hal tersebut, wargapun bersedia.

Dengan menggunakan TOA, Usif Gustaf, dengan suara lantang membacakan isi kesepakatan tersebut kepada semua warga. Adapun isi kesepakatan yang dibacakan usif Gustaf :

1.PIHAK PERTAMA ( 3 Usif) dan PIHAK KEDUA (Pemprov NTT) bahwa areal tanah seluas         3.780 Hektoare tetap menjadi milik  PIHAK KEDUA sesuai kesepakatan tahun 1982.

2.PARA PIHAK sepakat mengkapling tanah seluas 800 meter persegi bagi setiap keluarga       yang berada di lokasi itu.

3.PARA PIHAKsepakat mengidentifikasi wilayah desa Linamnutu, Enoneten, Polo, Mio,           Oe Ekam, untuk dikeluarkan dari sertifikat lokasi tersebut dan diserahkan kepada               masyarakat desa masing-masing.

4.Pihak ke I, meminta agar pihak ke II segera melakukan pembangunan di wilayah               mereka untuk kesejahteraan masyarakat .

5.Para Pihak sepakat mengakhiri segala konflik yang terjadi di Besipae.

Saksi-saksi dalam surat kesepakatan itu adalah, Komandan Kadim 1621 Kabupaten Timor Tengah Selatan, Letnan Kolonel, CZI Koerniawan. P, Kapolres TTS, AKBP  Ariasandy, SIK, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, DR. Marius A.Jelamu, M.SI, Kasat Pol PP Provinsi NTT, IR. Cornelis Wadu, M.SI, Gustaf Nabuasa, S.PT, dan Ketua Klasis Amanuban Selatan, Pendeta Yorim Y. Kause, S.TH.

PIHAK PERTAMA yang menandatangani surat itu adalah, Usif  P.R. Nabuasa, Usif Frans Nabuasa, dan Usif Nope J.D.I. Nabuasa. Sedangkan Pemerintah Provinsi NTT selaku PIHAK KEDUA  ditandatangani oleh Kepala Badan Aset Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, DR. Zeth Sony Libing, M.SI.

WARGA MENERIMA ISI KESEPAKATAN DAN SETUJU AKHIRI KONFLIK

Menanggapi isi kesepakatan yang dibacakan tersebut, mewakili 37 warga tersebut, Hengky Manao, mengatakan, menerima dengan tulus apa yang telah ditetapkan itu dan akan bersedia bersama Pemprov dan para Usif untuk mengakhiri konflik yang ada dan bersedia menempati rumah-rumah yang telah disiapkan oleh Pemrov NTT.

Namun atas nama seluruh warga, Hengky meminta agar Pemprov dan Para Usif secepatnya melakukan isi butir ke 3, sehingga apabila rumah-rumah yang telah dibangun itu tidak mengenai kebun atau belukar milik warga desa lain, maka warga yang diwakilinya bisa segera masuk ke rumah-rumah yang disediakan oleh Pemprov NTT.

Hengky juga meminta agar Pemrov NTT memikirkan juga masalah ketersediaan lahan agar warga dapat bertani sesuai profesi yang dijalaninya selama ini.

RAKYAT BOLEH BERTANI DILAHAN PEMPROV DAN SERTIFIKAT TANAH 800 M2 GRATIS

Menanggapi pembicaraan Hengky, Kepala Badan Aset Daerah Provinsi NTT, DR. Zeth Sony Libing, M,Si, mewakili Pemprov NTT mengatakan, pihaknya memberikan keluasan bagi warga untuk bertani di atas lahan Pemprov NTT namun diharapkan tidak mengklaim sebagai hak milik. Kata Sony, pihak Pemprov akan memberikan bantuan bibit maupun pupuk bagi para petani. Sedangkan tanah yang diberikan Pemprov seluas 800 m2 akan disertai dengan sertifikat gratis bagi 37 warga.

“37 KK Warga Besipae adalah masyarakat kami, sehingga apa yang kami lakukan ini tentu juga untuk kesejahteraan hidup masyarakat Besipae, masyarakat TTS dan Masyarakat NTT” Jelas Sony dengan wajah tulus.

Mengakhiri pertemuan ini, warga dan para usif serta rombongan Pemprov NTT, makan Sirih Pinang bersama sebagai tanda kekeluargaan yang erat.

MENGENAL SEKILAS PARA USIF DAN WILAYAH KEKUASAAN

Usif Nabuasa adalah Frans Nabuasa (Meo Besi)  dan Almarhum L.B Nabuasa ( Meo Pa’e).

Anak dari Almarhum L.B. Nabuasa (Meo Pa’e) adalah P.R. Nabuasa, yang sampai kini masih hidup. Kemudian P.R. Nabuasa, mempunyai anak kandung bernama Gustaf Nabuasa. Lalu adapula Tokoh Nabuasa lainnya yaitu Nope Nabuasa.

Frans Nabuasa ( Meo Besi) yang disebut Nabuasa Besi, memiliki wilayah kekuasaan meliputi Desa Mio, Desa Enoneten dan Desa Oe Ekam.

Sedangkan wilayah kekuaasaan P.R. Nabuasa atau disebut Nabuasa Pa’e, adalah Desa Polo, Desa Bena, Desa Linamnutu, Desa Kiubaat dan Desa Batnun. ( TRI-MEDIA/FNI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here