Citra Kehidupan Masyarakat NTT dalam Iklim Pandemi Covid-19 “Suatu Refleksi Antropologi Teologi Terhadap Aktivitas Budaya, Agama dan Masyarakat”

0
227
Foto
Webinar BPNB Provinsi Bali, 25 Maret 2021

Oleh : P. Drs. Gregor Neonbasu SVD, PhD

(Ketua Forum Diskusi GAG, Dosen FISIP UNIKA Widya Mandira, Anggota Aktif Institut Antropos Jerman)

FOCUS NEWS INDONESIA.com –  Iklim Pandemi Covid-19  memberikan hal yang sangat menarik bagi kehidupan Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam perspektif kehidupan sosial budaya masyarakat adat dan agama. Pandemi Covid-19 memperlihatkan suatu yang mengagumkan, ketika hasrat hati manusia dan masyarakat NTT berupaya untuk mengentaskan Pandemi Covid-19 dengan meningkatkan kualifikasi hidup rukun dalam masyarakat. Pengaruh Pandemi Covid-19 telah memberikan  perspektif baru bagi pegembangan mutu hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pater Gregor Nenobasu SVD,PhD, dalam Webinar Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali Tahun 2021 dengan tema “Merajut Keharmonisan Dalam Mewujudkan Pemajuan Kebudayaan Pada Masa Pandemi Covid 19”,  yang dilaksanakan pada beberapa waktu yang lalu (25/02/2021).
 BUDAYA, AGAMA DAN MASYARAKAT
Dosen FISIP UNIKA Widya Mandira Kupang itu mengatakan, Secara kultural, Masyarakat Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai kawasan yang rukun bersatu. Kualifikasi kerukunan itu selalu terwujud dalam respek yang ikhlas bagi sesama tanpa memandang latar belakang agama, ras dan suku serta posisi sosial. Masyarakat NTT selama ini telah membuktikan iklim kehidupan yang rukun, tidak saja dalam kata-kata dan perbendaharaan mindset atau hearthset, melainkan terlebih justru diwujudkan dalam berbagai perilaku sosial.
“Adagium nasional yang selama ini berkembang adalah, jika ingin belajar ‘cuaca kerukunan yang asli’, maka datanglah ke Nusa Tenggara Timur, sebuah Universitas kehidupan yang memiliki toleransi tinggi,”ungkapnya.
Ia mengatakan,  Budaya tolerasni sangat tinggi di bumi NTT disebabkan oleh relasi kekeluargaan yang amat mendalam. Ikatan kekeluargaan yang sedemikian tinggi dan erat tidak pernah mengganggu relasi persaudaraan di antara warga masyarakat, kendati berbeda agama dan kepercayaan sekalipun. Fenomena perbedaan agama dan kepercayaan selalu ditunjuk dalam ‘kultur saling mengasihi’ dengan membantu sesama ketika mereka melakukan kewajiban agama dan kepercayaannya. Di dalam kehidupan bersama setiap hari, nampak secara konkret masyarakat saling membantu, terlebih ketika seseorang menjalankan kewajiban agama dan kepercayaannya masing-masing.
Anggota Aktif Institut  Antropolos Jerman ini menguraikan, ketika tiba hari-hari besar agama dan kepercayaan tertentu, maka terjalin kerja sama antara warga yang berbeda agama dan kepercayaan untuk saling membantu warga tertentu yang merayakan atau menjalankan kewajiban agama dan kepercayaannya. Demikian misalnya ketika tiba hari-hari raya Kristiani (Natal dan Paskah atau hari-hari raya keagamaan Kristiani lainnya), sesama dari agama dan kepercayaan lain (Islam, Hindu dan Budha, Confusius, bahkan penganut agama asli) terlibat dengan membantu segala sesuatu yang dibutuhkan demi suksesnya perayaan-perayaan tersebut.  Hal sama selalu terlihat dan berlaku ketika tiba hari Idul Fitri dan atau perayaan-perayaan besar agama dan kepercayaan lain. Masyarakat NTT telah mewarisi toleransi kehidupan yang nyata, toleransi yang tidak terbatas hanya pada wacana dan diskusi yang membingungkan, melainkan praktek hidup yang rukun, dan damai.
Katanya, Budaya kerukunan didasarkan pada pemahaman tradisi kehidupan bersama yang telah dibangun semenjak jaman para leluhur. Kultur kerukunan telah tertanam sangat mendasar dalam tatanan kehidupan modern manusia dan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian pragmatisme model apapun, sangat sulit mengganggu kualifikasi kerukunan yang telah berakar sangat kuat dalam mindset dan hearthset masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Seorang pakar ternama Joachim Wach yang dalam teorinya mengenai agama-agama, selalu menekankan adanya titik temu yang sangat krusial, di mana darinya para penganut agama-agama dan kepercayaan selalu harus dapat bertemu. Iklim perjumpaan mereka senantiasa mengerucut pada usaha yang ikhlas untuk saling membina hidup ‘rukun’ dan ‘damai’. Damai adalah kata kunci menuju kerukunan dan kesejahteraan, dimana semua orang duduk bersama bergandengan tangan tanpa melihat perbedaan, baik dalam kaitan dengan ethnic, maupun berkenaan dengan aliran agama atau kepercayaan. Damai yang bening adalah suasana kehidupan, yang di dalamnya orang tidak lagi terpenjara pada perbedaan, melainkan semata-mata hanya memusatkan perhatian (focus) pada alasan kemanusiaan, humanity.
Menurutnya, Kata ‘damai’ selalu merujuk pada kehidupan bersama orang lain, dan dari hakekatnya ‘hidup damai’ merupakan dambaan bagi manusia dan masyarakat, termasuk warga Masyarakat NTT. Dalam budaya damai bahkan tidak saja tertuju kepada Allah dan manusia, melainkan juga kepada alam-raya sebagai macrocosmos dan para leluhur. Damai selalu merujuk pada sebuah kehidupan bersama sumber yang selalu mengalirkan Kasih Karunia tanpa pernah menunggak bagi diri dan kelompok terbatas. Aspek terdalam dari hidup damai selalu berorientasi pada dan bagi kepentingan umum (res publica), kehidupan banyak orang dalam kebersamaan yang indah.
Tidak ada damai-sejahtera yang hanya berupa kata-kata hampa, melainkan selalu merupakan perbuatan dan tindakan nyata untuk (1) berdamai dengan orang lain, (2) memberi rasa hormat yang pantas bagi orang lain, (3) serta bersama-sama membangun jejaring kehidupan dialogal yang bermartabat. Dengan demikian, damai selalu memberi peluang bagi suasana kehidupan ‘plus’ yang lintas pribadi, lintas kelompok, lintas kepentingan, lintas ethnic, lintas agama dan kepercayaan serta hanyalah tertuju pada kebersamaan yang harmonis.
Tekanan ada pada hamonisasi, yakni tanpa mempersoalkan perbedaan, tanpa mencari argumentasi untuk mempertanyakan ‘mengapa orang harus berbeda’ dan tidak sama. Nilai-nilai kebersamaan ini dalam konteks Nusa Tenggara Timur, selalu dihidupkan kembali – revitalisasi – dalam rangka mendukung usaha menjamin kerukunan dalam kehidupan beragama. Revitalisasi selalu merujuk pada apa yang disebut revisitasi yakni usaha untuk mengunjungi kembali nilai-nilai religious (budaya dan agama) yang terus dikembangkan dalam kehidupan bersama setiap hari.
Revisitasi selalu membimbing kepada sikap yang semakin mengarah pada cinta terhadap nilai-nilai terpuji serta sikap respek terhadap makna hidup yang terpandang. Namun hal itu baru akan memungkinkan apabila diikuti oleh apa yang disebut reiuvenasi, yakni usaha untuk meremajakan kembali makna dan nilai-nilai kultural serta perspektif spiritual yang hendaknya menjadi akar dan fundasi kehidupam pribadi dan masyarakat umum.
Selalu muncul kesulitan jika revitalisasi langsung tertuju pada usaha menghidupkan kembali sesuatu yang telah mengkristal, lantas tidak ada usaha untuk mengunjungi kembali seruan atau ajaran asli berkenaan dengan ‘damai’ yang menjadi inti pembicaraan kita. Waktu selalu mengalir, dan berbagai trend serta pengaruh akibat globalisasi juga semakin menjerat perhatian dan kehidupan manusia. Secara antropologis, “revitalisasi budaya dan hidup religious” seharusnya dijembatani oleh komitmen untuk menggali kembali makna dan nilai kultur masyarakat dan kekayaan budaya rohani, yang ternyata sangat kaya secara struktural dan selalu mengarahkan perhatian manusia kepada segala warisan yang bermakna bagi kehidupan masyarakat secara umum.
Kerukunan hidup beragama selalu erat kaitannya dengan apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai dan makna kebersamaan yang terkristalisasi dalam citra hidup masyarakat setiap hari. Pada satu sisi utama, kultur kebersamaan senantiasa ditekankan dalam agama-agama dan kepercayaan. Buktinya, agama-agama tidak pernah mengajarkan pertentangan, melainkan hidup bersama, rukun dan damai, saling memperhatikan, saling memberi perlindungan dan lain sebagainya secara harmonis dan positif.
Tradisi para bangsa juga selalu mengapresiasi secara tulus hidup rukun antar agama, hidup selaras tanpa mempersoalkan perbedaan berkenaan dengan ketidak-samaan mengenai iman kepercayaan dan agama. Dengan demikian, keberagaman dalam perspektif agama selalu memberi nuansa kekayaan, yakni kekayaan dalam analisis kepercayaan, refleksi dan meditasi mengenai spiritual capital dan religious capital dalam kehidupan bersama.
Tanpa membangun perasaan akan keberagaman sebagai cikal bakal kekayaan dalam kehidupan bersama, maka konflik – baik vertikal dan horizontal – merupakan bayarannya. Konflik semacam ini tidak ada dalam kamus kehidupan masyarakat tradisisonal NTT, ketika warisan leluhur dan berbagai adat istiadat masyarakat NTT masih menentukan ukuran untuk membangun kehidupan bersama yang selaras dan damai.
“Ide dasar kerukunan selalu melekat pada kebiasaan dan tradisi serta budaya agama-agama dalam masyarakat seluruh kawasan NTT,”ujarnya. (FNI/Red)
Bersambung ke Edisi Berikut  Berjudul “PANDEMI COVID-19 DAN IKATAN KEMANUSIAAN”.
(Editor : Pieter Kembo)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here