Ketua Kadin Matim: Kami Siap Bantu Jika Investor Kesulitan Mengurus Izin di Matim

0
19
Foto berita
Ketua Kamar Dagang dan Industri ( Kadin) Kabupaten Manggarai Timur, Maximillian Nalang Firman Demorin.

FOCUS NEWS INDONESIA.com, MANGGARAI TIMUR – Ketua Kamar Dagang dan Industri ( Kadin) Kabupaten Manggarai Timur,  Maximillian Nalang Firman Demorin mengajak semua pelaku usaha dan investor baik yang sedang mengurus izin atau belum mengurus izin agar jangan pernah takut untuk mengurus izin.

Firman, begitu dia biasa disapa , mengajak semua pelaku usaha agar mengurus izin sesuai dengan aturan yang telah berlaku. Dirinya mengakui bahwa sejak tahun 2021 banyak keluhan tentang lambannya proses izin yang dikeluarkan oleh dinas terkait di Kabupaten Manggarai Timur.

Menurutnya, hal ini didasari oleh adanya penerapan undang-undang cipta kerja yang mewajibkan setiap pelaku usaha untuk lebih proaktif dalam mengurus izin dengan menggunakan aplikasi OSS.

Hal tersebut tertuang dalam Pasal 1 ayat 17 PP Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Peraturan ini merupakan tindak lanjut dari ketentuan Pasal 24 dan Pasal 185 huruf b Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Dengan adanya undang-undang cipta kerja maka proses Izin Mendirikan Bangunan ( IMB) diubah menjadi Persetujuan Bangunan Gedung( PBG) istilah perizinan yang digunakan untuk dapat membangun bangunan baru atau mengubah fungsi dan teknis bangunan.

Ketika ditemui oleh media ini , Rabu ( 25/3/2022), Firman menjelaskan bahwa pemerintah dalam hal ini dinas terkait perlu bergerak lebih cepat dan sistematis menanggapi keluhan dari pelaku usaha yang sedang terjadi. Jika kita lamban mengatasi persoalan ini maka iklim investasi di Matim akan terhambat

” Sebagai Ketua Kadin Kabupaten Manggarai Timur saya minta Pemda Matim melalui dinas terkait melakukan sosialisai kepada semua masyarakat Manggarai Timur agar paham prosedur dan proses dalam mengurus izin sehingga para pengusaha yang hendak mengurus izin tidak bingung dengan peraturan terkait proses izin yang berlaku,” ungkap Firman.

Lebih lanjut Firman menjelaskan bahwa Manggarai Timur memiliki potensi alam dan hasil alam yang sangat luar biasa. Maka ini menjadi peluang bagi pemda dan juga kita semua termasuk teman-teman media untuk mempromosikannya ( potensi dan hasil alam ) kepada para investor, agar mau berinvestasi di Matim.

” Sebagai Ketua Kadin saya mendorong para investor untuk berinvestasi di Kabuapten Matim. Jangan takut untuk berinvestasi, kita dari Kadin siap mendampingi para Investor yang hendak mengurus izin apabila menemukan kendala dalam proses izin,” ujar Pengusaha Properti asal Matim itu.

Firman juga mengharapkan dukungan penuh dari pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) Kabupaten Manggarai Timur dalam hal penganggaran yang sudah atau sedang diusulkan oleh Instansi Teknis dalam hal ini Dinas PUPR untuk merevisi tata ruang / RTRW yang ada di Manggarai Timur yang merupakan hulu dari segala perizinan dan investasi di daerah ini. Sebab semua izin usaha mengacu pada tata ruang. Bidang tata ruang Dinas PUPR akan mengkaji pembangunan suatu usaha yang ada atau yang akan ada di wilayah tersebut. Jika tidak sesuai RTRW suatu usaha maka bisa dibatalkan atau tidak diberikan izin.

” Kami berharap DPRD Matim bisa menyetujui usulan anggaran dari Dinas PUPR untuk Revisi RTRW yang ada di Matim. RTRW yang kita punya saat ini masih menggunakan RTRW tahun 2012, sudah 10 tahun yang lalu. RTRW biasanya direview tiap 5 tahun mengikuti perkembangan daerah. Sudah saatnya RTRW kita direvisi. Sebagai contoh, untuk mengurus izin tambang batuan di Bondo, dalam RTRW masih menggunakan nomenklatur Desa Sita, sementara sekarang sudah mekar menjadi Desa Watu Mori. Juga dengan adanya pemekaran kecamatan dan pergantian nama kecamatan, semuanya perlu diakomodir dalam RTRW yang baru. Lalu beberapa titik yang mungkin bisa dialih guna lahan atau peruntukannya, misalnya yang tadinya pertanian lahan kering yang saat ini ternyata tidak produktif lagi, kita tambah fungsi-fungsi peruntukan lainnya yang potensial bisa dikembangkan di tempat tersebut”.

“Investor ketika pertama kali datang, pasti akan melihat tata ruang terlebih dahulu, bahkan sudah ada beberapa daerah yang  menggunakan RTRW digital, jadi bisa diakses langsung kapan dan dari mana saja oleh calon pelaku usaha atau investor yang mau berinvestasi di daerah tersebut”, tutup Firman.(RS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here