Beranda Pendidikan MENGKAJI MAKNA KETUHANAN SUKU ATOIN METO MASYARAKAT KERAJAAN BIBOKI TTU

MENGKAJI MAKNA KETUHANAN SUKU ATOIN METO MASYARAKAT KERAJAAN BIBOKI TTU

Oleh : Drs Gregor Neonbasu SVD, PhD

(Sebuah Skema Pendekatan Antropologi)

Umumnya masyarakat saat ini butuh pemahaman yang benar terkait apa yang disikapi dalam hidup setiap hari yang kiranya bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama dan bagi orang lain. Manusia dan masyarakat hendaknya memiliki pemahaman yang benar dan tepat mengenai Ketuhanan yang sama, agar iman dan penghayatan dalam kehidupan bersama menjadi lebih berarti. Hal yang sama inilah yang berlaku bagi ide atau makna dan arti dari Ketuhanan. Masyarakat Atoin Meto hendaknya memahami apa yang dimiliki selama berabad-abad mengenai perspektif mereka terhadap Yang Ilahi. Justru dengan dan dalam cara seperti inilah semua agenda pembangunan dalam masyarakat dapat dikaji dalam aspek ketuhanan tersebut.

 Akhir-akhir ini dinamika pembangunan masyarakat menjadi titik sorot perhatian berbagai pihak yang peduli pada martabat dan kepentingan banyak orang.  Banyak organisasi terlibat peduli terhadap masyarakat dan berhasil menunjukan perubahan dalam pola dan perilaku kehidupan bermasyarakat. Perubahan tersebut disadari menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia, namun pada sisi tertentu, belum mengakar pada hakekat keberadaan manusia sebagai makluk sosial, insan beragama, dan makhluk yang memiliki keyakinan tertentu. Dengan demikian, kondisi kehidupan saat ini seakan telah menimbulkan berbagai persoalan yang tampak sulit terselesaikan.

Kerap terjadi bahwa masyarakat secara individu maupun secara bersama-sama tidak mampu menghargai diri sendiri. Kesan sepintas, bahwa rusaknya lingkungan hidup, hama belalang menyerang tanaman secara besar-besaran, kekeringan, rusaknya tanaman, ekses sosial seperti korupsi yang berkelanjutan, kelaparan, busung lapar, dan berbagai kesulitan. Persoalan, tantangan dan kesulitan yang dihadapi disebabkan oleh berbagai faktor yang belum dikaji secara mendalam khususnya menyangkut Kebutuhan dan potensi masyarakat. Argumentasi peningkatan ekonomi masyarakat selama ini menjadi fokus pembangunan telah merusak tatanan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam/lingkungan hidup, dan bahkan relasi manusia dengan Yang Ilahi. Eksploitasi sumber daya alam tanpa  pertimbangkan ekosistim yang sangat terkait dengan nilai-nilai dan keyakinan masyarakat setempat berhasil merubah tatanan hidup bermasyarakat dengan alam atau lingkungan alam.

Pandangan masyarakat yang tertinggal, dan ampuhnya perubahan teknologi yang sangat canggih,  secara parsial merubah tingkat kehidupan sekelompok tertentu. Dan masyarakat kecil pun menjadi korban perubahan. Dengan demikian pembangunan ramah lingkungan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat sebab telah terjadi pengrusakan secara berkesinambungan dan sistimatis. Sementara itu, proses pembentukan kepribadian yang bersumber dari keyakinan atau agama yang merasuki hidup individu masyarakat menjadi kekuatan yang sulit dihilangkan pada kelompok masyarakat pedesaan atau kelompok yang belum tersentuh perubahan-perubahan sosial akibat pengaruh luar. Kekuatan religius dalam kelompok masyarakat tersebut belum diangkat sebagai pola dasar pembangunan, khususnya pembangunan di wilayah pedesaan atau kelompok-kelompok marginal.

Pater Gregor Neonbasu, bersama warga Biboki di Tempat Ritual (fnidok)

Dalam bingkai kehidupan Masyarakat Atoin Meto, dan khususnya warga Masyarakat Kerajaan Biboki, ternyata faham Ketuhanan, baik yang dimiliki dalam khazanah pemahaman agama asli, maupun yang diajarkan Agama Katolik atau agama-agama lain, belum sepenuhnya diimplementasi dalam kehidupan bersama setiap hari. Pada satu sisi Kekristenan telah diakarkan dalam kehidupan bersama setiap hari, namun pada sisi yang lain, masih terasa kuat bahwa keterikatan secara bathiniah pada agama asli sungguh memprihatinkan. Terjadi semacam dualisme kehidupan, antara ide dan praktek kekristenan, serta faham dan aplikasi adat-istiadat yang berjalan secara setara. Sementara itu praktek pragmatisme selalu menggerogot perhatian warga masyarakat terhadap kehidupan sosial-politik secara berat sebelah. Dalam arti perhatian warga masyarakat selalu cendrung secara sepihak untuk memberikan perhatian bagi kepentingan dan kehidupan politik dalam masyarakat. Ada kesan bahwa politik sepertinya memegang kendali utama dalam seluruh paradigma kehidupan manusia dan masyarakat.

Memandang luhurnya Makna Ketuhanan dalam kehidupan masyarakat Atoin Meto warga Kerajaan Biboki TTU, maka Direktorat jenderal (Ditjen)  Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, lewat Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali, melakukan Penelitian Makna Ketuhanan tersebut dengan melibatkan para tenaga ahli peneliti untuk mengkaji Makna Ketuhanan warga Masyarakat Atoin Meto pada Kerajaan Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), agar dapat berguna sebagai bahan perencanaan pembangunan di Biboki, dan sebagai dasar analisis Pastoral gereja, sebagai Input bagi pihak luar dalam rangka mengeliminir marjinalisasi masyarakat Biboki khususnya dalam pembangunan kehidupan bermasyarakat.

Tim Peneliti yang dipercaya melakukan Kajian Makna Ketuhanan tersebut adalah para pakar dibidangnya masing-masing, yang terdiri dari : Antropolog (P. Gregor Neonbasu SVD, PhD), selaku ketua team, teolog dan ahli Kitab Suci Rm Drs. Mikhael Valens Boy Pr, Lic.Libr, seorang teolog kontekstual yang juga ahli kemasyarakatan P. Dr. David Amfotis SVD, MA, seorang tenaga Bahasa Inggeris Margareta Windarti Neonbasu S.Pd, Bpk Drs Wilfridus Silab MSi, yang adalah pakar budaya Timor, khususnya Miomafo dan sekitarnya.  Kegiatan Penelitian dilaksanakan sejak tanggal 11 September sampai 22 September 2021.

Citra studi mengenai kerajaan tersebut dilakukan dalam koridor sebuah kajian mendalam mengenai keagamaan asli untuk kemudian dapat dijumpai ‘ideologi popular’ dari masyarakat setempat. Pada dasar pemahaman yang realistis seperti inilah maka akan terbuka jalan guna menemukan sebuah model pendekatan yang sesuai dengan dinamika pembangunan masyarakat. Hal seperti ini juga sangat membutuhkan pemahaman yang benar mengenai faham Ketuhanan masyarakat lokal, dan itulah landasan eksistensial dan cikal bakal dari judul penelitian ini.

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : Apa saja nilai-nilai religius/spiritual yang terdapat dalam kelompok masyarakat yang beragama asli di dalam kalangan masyarakat Kerajaan Biboki?, apa saja bentuk-bentuk keyakinan asli yang ada pada kelompok masyarakat Biboki?, bagaimana ideologi dan model pendekatan dalam pengembangan/ mempertahankan agama asli di wilayah Biboki?, bagaimana model pendekatan pembangunan kelompok masyarakat yang beragama asli di Kawasan Biboki?.

Tujuan Peneitian ini yaitu, untuk mengetahui nilai-nilai religious-piritual dan elemen yang dinamis dari komunitas agama asli di Biboki. Untuk mengetahui bentuk-bentuk keyakinan pada kelompok masyarakat Biboki. Untuk mengetahui idiologi dan model pendekatan dalam pengembangan/mempertahankan agama asli di Biboki, TTU. Dan untuk mengetahui model pendekatan pembangunan ekonomi pada kelompok masyarakat Agama Asli di Biboki, TTU.

Landasan teori Penelitian adalah kejujuran hati untuk mencari makna dan arti Ketuhanan pada warga Masyarakat Atoin Meto, khususnya warga masyarakat pada kawasan Kerajaan Biboki. Dengan demikian, hal yang menjadi titik uraian adalah juga religiositas Atoin Meto secara umum. Kami mendasarkan cikal bakal penelitian ini pada hasil yang kami peroleh ketika membuat penelitian di hampir seluruh kawasan pulau Timor dan tidak saja berkaitan dengan kawasan Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara. Refleksi ini juga sebagai, telaahan, kritikan dan masukan terhadap beberapa kajian analisis yang pernah dilakukan oleh para pakar, yang karya tulis mereka dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan kami selama ini.

Secara umum, tata ruang hidup Masyarakat Timor dikuasai oleh yang sacral dan yang profane, dengan catatan utama, ‘yang sacral’ merupakan unsur pokok oleh karena aspek inilah  yang secara lebih seksama dan simultant mengontrol dengan cermat dan teratur serta amat sangat ketat segala yang terjadi di sekitar manusia dan kehidupan masyarakat setiap hari. Hampir semua kegiatan manusia, apakah berkenaan dengan kehidupan pribadi atau warga masyarakat, dimensi spiritual yang berhubungan dengan yang sacral merupakan conditio sine qua non, artinya hal itu selalu mutlak diperhatikan dan tidak pernah ada sikap tawar menawar.

Yang menarik dalam paradigma kehidupan Masyarakat Timor, walau formulasi mengenai hakekat yang sacral tidak banyak dikenal dalam bahasa-bahasa masyarakat (popular), namun dimensi ini selalu mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia dan masyarakat secara keseluruhan. Bukti akan betapa yang sacral ini memegang peranan penting dalam seluruh tatanan hidup Masyarakat Timor adalah perspektif kehidupan orang-orang setempat yang selalu berorientasi seputar sebuah pusat yang mendapat perlakuan sangat khusus. Lokasi yang menjadi pusat ini justru senantiasa dilihat sebagai tempat diam – atau tempat tinggal – yang sacral, yang selalu dipelihara oleh manusia, baik secara pribadi, maupun secara kelompok (keluarga dan masyarakat).

Perlakuan yang sangat khusus ini didasarkan pada pertimbangan mengenai kehadiran Yang Ilahi di sekitar lokasi yang dinilai sebagai centrum dan karena itu disikapi  dengan penuh hati-hati dan sangat istimewa. Tempat yang dinilai sebagai pusat ini justru dilihat juga sebagai jembatan emas yang menghubungkan manusia dan yang tidak kelihatan; antara karya manusia setiap hari dan unsur kontemplatif dari perspektif manusia yang tak nampak bagi pandangan mata; antara aliran pemikiran manusia dan substansi manusia yang paling paripurna yang tidak terkurung dalam aturan waktu dan tempat. Acapkali, aspek yang tidak kelihatan ini sulit terformulasi dalam kata-kata manusia yang terbatas. Dalam kenyataannya, posisi sentral dari Yang Ilahi itu tidak saja secara formal dielaborasi dalam menetapkan ‘pusat-pusat tertentu’, melainkan juga terungkap dalam pola dan kebiasaan Masyarakat Timor ketika menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan alam-raya untuk melukis realitas yang sungguh dihormati.

Di dalam ungkapan-ungkapan tersebut tersingkap bahwa yang sacral dijadikan sebagai patokan dasar dan fundasi kehidupan manusia dan segala bentuk perkembangan duniawi. Untuk itu realitas atau hakekat yang sacral itu justru hanyalah dikenal manusia dengan lebih terang apabila manusia yang sama menggunakan tanda dan symbol. Karena itu symbol dan tanda secara struktural menunjuk pada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang hendaknya disingkapkan, sesuatu yang harus diungkapkan, sesuatu yang harus dibuka dan dijelaskan dengan kata-kata dan keterangan yang dapat difahami. Simbol dan tanda membungkus hakekat yang sacral! Dengan demikian, unsur paling pokok dari yang sacral adalah tanda dan symbol, dan kedua hal ini ada dalam tataran ekologi alam raya.

Foto berita
Pater Gregor Neonbasu, menari bersama warga Biboki-(fnidok)

Selama ini sudah ada banyak peminat yang membedah secara cermat suasana dan kondisi kehidupan Masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Utara. Antara H.G. Schulte Nordholt dengan karya monumental The Political System of the Atoni of Timor (1971). Ada beberapa hal di dalam karya tersebut, yang akan menjadi dasar refleksi selanjutnya pada satu sisi, dan pada pihak lain semua hal ini justeru menjadi landasan dari penelitian yang sedang dirancang. Cikal bakal refleksi kami juga pada aspek lain berbias pada usaha untuk semakin memperkuat hubungan yang sangat erat (1) antara ekologi dan yang sacral, (2) antara ekologi dan mitos, (3) antara ekologi dan symbol.

Yang pertama, ekologi membantu manusia untuk memahami dengan lebih tepat arti dan hakekat dari yang sacral. Substansi yang sacral diketahui manusia berkat perjumpaan azasi manusia dengan ekologi, sehingga dengannya manusia mampu mengapresiasi pertemuannya dengan yang sacral. Segala sesuatu yang ada dalam alam raya menjadi jembatan bagi manusia untuk melukis dengan tepat corak berpikirnya mengenai inti dan hakekat yang sakral itu.

Yang kedua, sebetulnya hal yang berikut ini merupakan formulasi lain dari yang pertama. Yakni kisah-kisah yang digunakan manusia, justeru diambil dari lingkungan dimana manusia hidup dan bergerak. Dengan demikian mitos merupakan rekayasa perjumpaan manusia dengan lingkungan hidup, dimana lingkungan yang sama menjadi fundasi dari kreativitas manusia untuk memformulasi mitos secara menarik dan tertuju pada sasaran serta tujuan tertentu.

Yang ketiga, di dalam memakai bahasa, manusia melukis dengan menarik perjumpaannya dengan ekologi, namun untuk memberi sebuah gambaran yang mencukupi maka manusia tidak saja memakai bahasa biasa. Ada sarana bahasa dan langgam yang lain, yang dengannya manusia dapat melihat batas kerapuhannya. Manusia dapat melihat lintas, yakni segala keterbatasan akal-budi, kehendak dan perasaannya untuk kemudian mampu menemukan sebuah perspektif yang lebih baru untuk menangkap realitas di balik yang biasa yakni yang sacral. Di sini, manusia membutuhkan symbol yang merupakan rekayasa arti di balik realitas yang nampak bagi indera penglihatan.

Dalam bingkai kehidupan spiritual, biasanya ada perubahan sikap dalam diri manusia ketika diucapkan symbol dan tanda tertentu untuk memulai sebuah tahapan waktu yang khusus pada saat menghadirkan yang sacral. Perubahan sikap ini didahului oleh perpindahan atau pergantian mindset masyarakat, yakni dari iklim kehidupan biasa kepada kehidupan yang khusus, dimana masyarakat ingin berjumpa dengan yang sacral. Secara psikologis, manusia yang sedang berpindah dari suasana biasa kepada suasana tercipta yang khas – sacral dan spiritual – itu diragakan dalam perayaan ritual tertentu, yakni dengan cara mengungkapkan kata-kata sederhana guna memulai tata krama dari seluruh rangkaian perjumpaan dengan Yang Ilahi.

Sementara itu, masyarakat sederhana pandai sekali menghubungkan berbagai perjumpaan yang dialami manusia dengan segala peristiwa kritis (malang, kesulitan, tantangan dan apa saja yang bertentangan dengan harmonisasi) untuk sesegera mungkin melaksanakan ritus. Pikiran mereka yang tradisional dan purba (archaic mind) memang selalu dalam skala yang terbatas namun senantiasa membimbing mereka untuk yakin akan peran atau fungsi ritus sebagai alat pemelihara kehidupan dengan tetap menjaga harmonisasi pada tataran macrocosmos (lingkaran luar) dan microcosmos (lingkaran dalam). Ritus menjadi jembatan emas untuk menghubungkan pelana makro-cosmos dan mikro-cosmos. Yang merangkumi lingkaran luar kehidupan manusia adalah Yang Ilahi, alam raya (ekologi) dan leluhur (yang tak kelihatan). Sedangkan yang termasuk dalam bingkai lingkaran dalam adalah manusia itu sendiri (yang kelihatan). Inilah skematisai dan sistematisasi hukum yang tertata baik dalam alam pemikiran manusia.

Bidang agama umumnya dan karya pewartaan secara khusus, selalu terlihat dengan sangat jelas bahwa kesulitan justeru muncul bagi peserta baru atau sebut saja mereka yang datang dari luar kebiasaan dan budaya Timor, yang belum pernah mengalami suasana perpindahan yang sangat spiritual dari yang profan kepada yang sacral. Jika hanya secara kasat mata atau hanya menggantungkan analisis pada pertimbangan pada saksi indera penglihatan, maka makna di balik peristiwa itu tidak akan dimengerti dengan sempurna.

Pada titik ini para pengamat cendrung mengelompokkan berbagai tindakan ritual ke dalam kategori menyembah berhala, atau percaya sia-sia, atau tindakan memberi harapan kepada sesuatu yang mustahil, menggantungkan hidup manusia (kemarin, kini dan nanti) pada sesuatu yang tidak pasti dan lain sebagainya yang serba negatif. Hal seperti ini dapat dijelaskan sampai detail, misalnya dengan kembali merefleksi posisi ekologi, dalam kaitannya dengan mindset masyarakat dan perspektif spiritual warga masyarakat pada patahan waktu tertentu (masa silam). Catatan penting bagi pemahaman ini adalah bahwa peran dan fungsi ekologi dalam bingkai ritus selalu memberi kekuatan kepada manusia untuk memahami berbagai symbol dan tanda yang telah dan sedang digunakan untuk membangun perjumpaan manusia setiap hari baik di antara manusia dengan sesama, maupun manusia dengan ekologi dan bahkan lebih dalam dari itu yakni manusia dengan yang sacral (yang tak kelihatan).

Dewasa ini Manusia Timor – dan bahkan hampir semua orang di seantero dunia – menghadapi sebuah ketakutan azasi, yakni adanya bencana alam. Akar persoalan justeru ada pada ‘rasa asing’ terhadap alam atau dapat disebut dengan berbagai macam formulasi, seperti malapetaka lingkungan hidup, dan lain sebagainya, yang sebetulnya bermula pada perhatian manusia yang kurang untuk peduli dengan keutuhan lingkungan alam – ekologi – di dalam masyarakat setiap hari. Dalam perspektif antropologi, perhatian terhadap lingkungan hidup lazim dikategori dalam hasrat hati untuk memperhatikan dinamika ekologi dan ekosistem kehidupan manusia.

Ekologi merupakan sesuatu hal sangat penting dalam setiap pembicaraan mengenai lingkungan hidup. Dimensi inilah yang memberi kemungkinan bagi perbaikan mutu kehidupan bersama, baik dalam masyarakat, maupun bersama alam-raya yang lebih bermartabat. Sikap positif itu dapat dilihat dalam mindset masyarakat mengenai alam raya. Seorang pakar tentang Timor, F.J. Ormeling dalam karyanya The Timor Problem ((1957) sudah menyampaikan kajiannya yang cerdas mengenai betapa pentingnya diperhatikan dengan serius pemeliharaan ekologi Pulau Timor.

Konsentrasi Ormeling adalah tentang akan segera punahnya pepohonan ampupu yang menjadi ‘hiasan alamiah yang menarik’ di sekitar pegunungan Mutis di daerah Mollo, pesimpangan wilayah antara TTS dan TTU. Melengkapi Ormeling (yang memusatkan perhatian pada kawasan barat bagian Timor), seorang pakar lain Joachim K. Metzner dalam  karyanya Man and Environment in Eastern Timor (1977) mengkaji dengan sangat seksama relasi integral antara ekologi dan kehidupan manusia Timor (bagian timur dari Pulau Timor). Kedua ahli tersebut memberi masukan yang sangat mendasar mengenai ikatan dan relasi internal antara Manusia Timor dan lingkungan hidup yang ada di sekitarnya pada pelana relasi spiritual manusia dengan Yang Ilahi.

Manusia Timor selalu melihat segala sesuatu yang terjadi dalam alam-raya sebagai bekas atau pantulan alamiah bagi kehidupan manusia setiap hari. Dalam arti, kehidupan yang bermartabat tidak boleh bertentangan atau berlawanan dengan segala yang terjadi pada dinding sejarah dan kehidupan alam raya. Masyarakat Timor mengenal relasi istimewa dengan ekologi dalam tanda-tanda yang sederhana dan kecil yang langsung berhubungan dengan kehidupan manusia setiap hari. Lambang dan tanda merupakan warta kehidupan bagi manusia dalam keseharian masyarakat sederhana di kampung-kampung. Ternyata yang sederhana dan kecil ini tidak semata menunjuk pada perkara-perkara biasa yang tidak masuk hitungan, melainkan justeru mengandung makna teramat kaya yang sangat mendominasi mindset dan perilaku manusia dalam kehidupan setiap hari.

Relasi konstruktif dan simbiosis dari sebatang pohon lalu diteruskan dengan aliran kehidupan yang kemudian dilanjutkan secara alamiah kepada batang, cabang dan ranting, yang dalam istilah lokal lazim disebut tlaef (Uab Meto). Dari tlaef ini Manusia Timor terus berpikir akan generasi berikut yang disebut sufa // kaun, yang secara literer diterjemahkan dengan bunga dan buah. Secara metaforis, jejaring yang ada dalam generasi kehidupan manusia selalu bermula dari pohon, batang, cabang dan ranting, kemudian bunga dan buah, yang secara konstruktif melukis sebuah keutuhan yang tak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya. Dalam arti generasi kini secara hakiki tak mungkin terlepas dari generasi sebelumnya, yang telah ditanam dan dibangun oleh para leluhur semenjak awal aras kehidupan manusia terbentuk.

Penelitian ini tentunya menjadikan karya Schulte Nordholt The Political System of the Atoni of Timor (1971) sebagai salah satu aras refleksi untuk mengkaji lebih dalam dimensi Ketuhanan Masyarakat Atoin Meto di Kabupaten TTU. Di dalam buku tersebut, Orang Atoin Meto atau bahkan Masyarakat Timor diidentifikasi secara umum sebagai penduduk sebuah domain dengan memiliki sifat-sifat berikut. Orang Timor adalah dia yang dapat melihat dengan mata dan hati, juga mampu memahami lingkungan, dan sanggup mengenal alam dan sesama, dan dapat dengan mudah menyesuaikan diri, juga selalu mencari relasi antara ritus, mitos, dan organisasi sosial politis,  serta aturan simbol.

Seorang pakar pribumi lain, Hendrik Ataupah (alm.) dalam penelitiannya di Amarasi (tahun 1991) – wilayah Kupang – menunjuk sebuah gejolak menarik tentang watak Suku Bangsa Meto (Atoni Pah Meto atau Atoin Meto) yang justeru sungguh sangat dekat dengan lingkungan hidup. Bagi setiap Suku Meto, lingkungan hidup (fisik dan psyche) merupakan bagian tidak terpisahkan dari seluruh proses kehidupan manusia dan masyarakat. Karena itu antara manusia (ego) dan ekologi selalu dijalin prinsip feto//mone “saudari//saudara” dan olif//tataf “adik//kakak”. Suku bangsa Atoni selalu memperhatikan keselarasan ekologi, dan karena itu lingkungan hidup itu juga senantiasa menjaga dan memelihara peri-hidup manusia.

Peribahasa Latin Serva ordinem, et ordo servabit te “peliharalah aturan dan aturan akan memelihara engkau”, juga dikenal sangat kental dalam khazanah Uab Meto dengan ungkapan mpanat ma muloitan lasi ma tone, hele’ lasi ma tone npanat ma npainoet ko “peliharalah dan jagalah aturan dan ajaran, maka aturan dan ajaran yang sama akan menjaga serta memelihara anda”. Secara luas kalimat ini mengandung makna, peliharalah lingkungan hidup, agar lingkungan hidup yang sama menaungi serta tetap membimbing kehidupanmu! Sikap ramah terhadap lingkungan tidak saja bersifat to take and to give, artinya ekologi akan sebaliknya memelihara akhlak dan kehidupan manusia, melainkan justeru dari kandungan cosmos manusia akan mendapat nilai tambah yakni anugerah dan rejeki bagi kehidupan setiap hari.

Ataupah sangat cermat melukis struktur ekosistem wilayah Atoni dengan menulis secara terperinci tanah, topografi, sungai, hutan dan padang sabana serta pelbagai kemungkinan berkenaan dengan pengetahuan dan citra lingkungan yang baik bagi kehidupan Suku Atoni.  Ataupah sangat kaya dan amat terperinci mengkaji hal-hal sejarah purbakala sekitar beberapa abad sebelumnya ketika membeberkan buah karya para penulis pada masa itu. Ia misalnya selain menyebut Heijmering (1845-1847), Castro (1862, 1864), Bijlmer (1929), Middelkoop (1938, 1949, 1952 dstnya.), Boxer (1947, 1948, 1958), Cunningham (1964, 1966), juga menyinggung upaya dan temuan Metzner (1977) di kawasan Negara Timor Leste. Sambil bertolak pada temuan-temuan para pakar sebelumnya, berikut dapat disampaikan 10 hal yang adalah benang merah atau kekuatan bagi Suku Atoni Pah Meto untuk menduduki sebagian besar Pulau Timor bagian barat. 1.Mereka mampu membaca tanda-tanda jaman secara tepat sesuai petunjuk alam. 2.Mereka dapat dengan mudah menyesuaikan diri. 3.Mereka pandai dan pintar menjaga harmoni.  4.Mereka cekatan dan lihai menghadap musuh. 5.Mereka memiliki daya kreasi yang sangat tinggi dan cermat. 6.Mereka selalu setia, jujur, dan tidak menipu. 7.Mereka mencintai lingkungan hidup. 8.Selalu mau berteman dengan siapa saja. 9.Mereka tetap berpegang teguh pada janji dan sumpah ketika memutuskan  sesuatu untukdilaksanakan. 10.Mereka meyakini bahwa setiap perbuatan baik tetap dilegitimasi oleh Yang  Ilahi.

Demikian beberapa butir refleksi sebagai arah dasar untuk memahami latar belakang penelitian yang sedang dirintis berkenaan dengan Masyarakat Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara yang senantiasa berpedoman pada tradisi dan kebiasaan religi suku-suku yang mendiami domain tersebut. Refleksi teologis sangat penting untuk lebih memahami inti iman dan warta keselamatan yang dihidangkan pihak Gereja di tengah manusia dan masyarakat yang multi-dimensi. Sementara, tidak kalah penting juga refleksi antropologis dari pihak berbagai pihak (dan terutama pihak Gereja Katolik) untuk lebih mendalami relitas kehidupan Manusia Timor yang ada pada wilayah Kerajaan Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Segala keterpecahan baik dalam diri ego (pribadi) manusia, maupun pada sela-sela kehidupan bermasyarakat saat ini, juga berkenaan dengan struktur budaya serta tradisi masyarakat, semuanya harus dikaji secara struktural untuk sedapat mungkin menemukan inti dan hakekat persoalan yang membebani hidup manusia dan masyarakat. Dengan demikian, jalan mulus akan segera terbuka untuk kemudian mencari pendekatan yang benar dan tepat dalam menerapkan strategi pastoral yang lebih berdaya-guna. Warta keselamatan tentang Kabar Gembira yang disampaikan pihak Gereja di Biboki tidak akan berakar dalam hati dan budi  manusia, jika konteks dan realitas kehidupan manusia dan masyarakat setiap hari – termasuk budaya dan tradisi religi – gagal diperhatikan dengan lebih seksama.

Pater Gregor, bersama tokoh-tokoh Adat Boboki saat lakukan Ritual dalam rumah adat.(fnidok)

Masyarakat Biboki secara formal telah menganut agama resmi sesuai dengan yang dituntut oleh Negara dan bangsa Indonesia. Namun sering terjadi di dalam masyarakat bahwa masih ada pengaruh agama asli seirama dengan semakin meningkatnya perhatian masyarakat terhadap dinamika pembangunan dan semangat modernisme. Dalam arti, secara visual, Masyarakat Biboki sudah menganut agama-agama resmi yang diakui oleh bangsa dan Negara sesuai perundang-undangan yang berlaku. Namun tokh masih ada warga masyarakat yang bahkan selalu taat pada proses dan aktualisasi agama asli, dimana hal seperti ini mempengaruhi dinamikan pembangunan secara umum.Untuk itulah penelitian ini berupaya mengais apa saja nilai-nilai religius/spiritual yang terdapat dalam kelompok masyarakat Biboki yang masih menjalankan pola beragama asli. Selain  itu akan dikaji lebih lanjut mengenai apa saja bentuk-bentuk keyakinan yang ada pada kelompok masyarakat Kabupaten Biboki, yang ternyata merupakan sebuah fenomena sosial dan berlaku umum pada masyarakat setempat.

Hal yang menjadi latar belakang persoalan juga ada pada mencari landasan kuktural dengan model pertanyaan, bagaimana ideologi dan corak pendekatan dalam pengembangan/mempertahankan agama asli di kawasan Biboki, yang tidak saja berkenaan dengan pengembangan pendidikan keagamaan, melainkan sebagai cikal bakal tingkah laku pembangunan secara umum. Dengan demikian akan diketahui dengan pasti juga mengenai model pendekatan pembangunan Masyarakat Biboki, dalam kerangka pengembangan kehidupan manusia dan masyarakat yang lebih bertampang.

Untuk melukis landasan berpikir dalam kaitannya dengan latar belakang serta masalah dan tujuan serta kegunaan dari penetilian ini, dilakuan dalam kerangka berpikir terkait Prospektif Hidup Manusia, yakni tentang Realitas Kehidupan Manusia, pada aspek Religius yaitu Kepercayaan dan Agama, pada aspek Spriritual yaitu tentang Kerohanian, Psikis, Kebathinan dan Kehiwaan. Pada aspek lingkungan Internal, yaitu tentang  Minset, Presepsi dan Perspektif. Dan pada aspek Lingkungan Eksternal, yaitu tentang Alam, Sistem dan Teknologi.

Metode Penelitian dilakukan dalam dua cara yaitu, Teknik Pengumpulan Data dan Teknik Analisa Data. Proses pengumpulan data tim peneliti menggunakan Focus Group Discussion dan In depht Interview.  Informan kunci adalah: Tua-tua adat, Tokoh masyarakat, Tokoh Agama, dan pihak Pemerintah. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan pada semua desa di seluruh kawasan Biboki. Pada pola In depht interview, team melakukan pendekatan dengan mengkaji bahan secara lebih detail dengan beberapa tokoh kunci. Jumlah responden ditentukna setelah tiba di lokasi, yang tertuju pada para ibu, bapak, dan para tokoh adat terpilih.

Sedangkan Teknik Analisa data, dilakukan dengan cara Tabulasi data, Coding,  Analisa dengan menggunakan thick description method dimana tim menggali makna dibalik fenomena yang terjadi. Sesuai rancangan maka proses penelitian ini berakhir dengan diterbitkannya buku, yang memuat semua hasil dari proses penelitian di atas. Kegiatan Penelitian ini dilakukan sejak 11 sampai 22 September 2021, dengan jenis-jenis kegiatannya yaitu : Turun ke lapangan, kawasan Biboki: untuk bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat, Wawancara dengan kelompok khusus. Rangkuman wawancara dan pendalaman materi. Review rangkuman (Laporan rangkuman), Seminar Hasil Penelitian (perbaikan informasi). Proses Penulisan Buku (Penyempurnaan). Tim Peneliti terdiri dari ahli-ahli yang memiliki kualifikasi ilmu dalam bidangnya masing-masing. (Redaksi)

Team Peneliti :

1.Drs Gregor Neonbasu SVD, PhD (Ketua)

2.Mikhael Valens Boy Pr. Lic. Bibl. (Anggota)

3.Dr David Amfotis SVD, MA (Anggota)

4.Margareta Windarti Neonbasu, S.Pd (Anggota)

5.Drs. Wilfridus Silab, M.Si  (Anggota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

DPP PWRI KUTUK AKSI KEKERASAN TERHADAP WARTAWAN DI NTT

FOCUS NEWS INDONESIA.com-KUPANG --Terkait kekerasan terhadap wartawan di NTT, PWRI mengutuk keras kepada pihak-pihak yang melakukan kekerasan fisik terhadap pekerja jurnalistik, yakni saudara kita...

USAI JUMPA PERS, WARTAWAN DIANIAYA PREMAN

KUPANG, FOCUS NEWS INDONESIA  – Wartawan Suaraflobamora.Com, FPL dianiaya sejumlah  preman tak dikenal di dekat pintu gerbang masuk/keluar Kantor Perusahaan Daerah (PD) PT. Flobamor,...

INSPEKTORAT DAERAH PROVINSI NTT RAIH PREDIKAT ‘SANGAT BERHASIL’

FOCUS NEWS INDONESIA.COM, KUPANG – Kinerja Instansi Pemerintah Daerah merupakan gambaran mencapai tujuan dan sasaran pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi maupun strategi instansi...

GBIS Harus Bisa Wujudkan Damai Sejahtera Bagi Dunia

FOCUS NEWS INDONESIA.COM, KUPANG - Demikian disampaikan oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XX Gereja Bethel Injil Sepenuh...

Sarat Konflik, WALHI NTT Desak Pemerintah Segera Hentikan Pembangunan Waduk Lambo

NAGEKEO, Focus News Indonesia.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur menegaskan kepada Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II),...