Pemimpin Satu Umat adalah Pemimpin Semua Umat : Takziyah Paus Benediktus IXV

0
1
Al Makin (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Oleh : Al Makin

(Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

DI KEDUTAAN Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia di Jakarta atau Nunsiatur Apostolik, kami berempat menyampaikan rasa duka mendalam terhadap kepergian Paus Emiritus Benediktus IXV di Vatikan. Diterima langsung oleh Kardinal Piero Pioppo kami sampaikan bela sungkawa kami dari umat Islam di Indonesia tentang kepergian pemimpin umat Katolik tersebut.

Kami diterima dengan hangat, dijemput di tangga rumah kedutaan. Dituntun menuju buku tamu, didengarkan ucapan duka kami dengan serius. Kami dipersilakan menulis rasa simpati dan empati kami di depan profile wajah sang Paus Emiritus.

Kami berdoa untuk kebaikan yang telah pergi, mengenang jasa-jasanya, dan mendoakan umat Katolik, dan umat-umat lain di dunia. Kami berdoa untuk Paus Emiritus dan dunia. Kami berdoa untuk pemimpin Katolik dan umat lain di dunia.

Saat ini, seorang yang beriman, juga harus antariman. Konsekuensinya sama, seorang pemimpin umat tidak lagi hanya untuk umat satu iman, tetapi sekaligus pemimpin umat-umat yang lainnya. Seorang yang beriman, baik itu Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Yahudi, Druz, Bahai, atau agama lain harus juga memberi ruang kepada, dan memahami iman lain.

Satu iman tidak bisa hidup sendiri tanpa bersinggungan, bersahabat, dan bergaul dengan umat lain. Satu iman saja tidak mungkin, secara eksklusif dan mandiri. Iman lain tetap terlibat dalam kehidupan nyata, baik sebagai kolega, tetangga, kawan bisnis, partner kerja kantor, atau sebangsa, atau bahkan warga bumi. Semua saling bergaul. Semua saling berhubungan.

Seorang yang beriman berarti juga harus antariman. Begitu juga pemimpin agama saat ini. Tidak bisa lagi hanya merasa menjadi pemimpin satu umat atau satu iman. Pemimpin suatu kaum, kelompok, masjid, gereja, vihara, atau pura juga sekaligus pemimpin umat lain.

Paus Benediktus telah membuktikan itu. Baik saat berpidato atau mengambil kebijakan beliau menunjukkan rasa empati dan rasa keterhubungan itu dengan umat lain. Terutama dengan umat Islam dunia, Paus Benediktus tidak akan terlupakan.

Tepat waktu itu, penulis sendiri tahun 2006 sedang studi di Jerman. Paus Benediktus, yang lahir di Jerman dan dikenal dengan nama Kardinal Ratzinger menyampaikan pidato di Universitas Regensburg.

Waktu itu tentu belum ada program moderasi beragama di Indonesia. Tidak seperti saat ini, Kementrian Agama dan Pemerintah Indonesia menekankan program moderasi beragama.

Sang Paus itu sedikit berkomentar tentang sejarah umat Islam. Yaitu tentang dialog Kaisar Byzantium Manuel II Paleologos. Intinya adalah komentar tentang iman, kekerasan, dan pentingnya sikap moderat. Waktu itu reaksi berlebihan datang dari dunia Muslim. Beberapa pemimpin agama Islam dunia dan juga di Indonesia mencoba mencerna dengan hati yang dingin dan lapang.

Betapa pentingnya dialog antariman. Betapa pentingnya mendengar dari iman lain. Betapa pentingnya memahami sebelum bereaksi. Dan betapa pentingnya kita saling memahami, antar umat dan antar iman. Sebagai seorang cendikiawan Jerman, Paus Benediktus menunjukkan ketelitiannya, daya kritis, dan perspektif dari sisi sejarah klasik.

Saat ini ketika program moderasi beragama bergema di Indonesia kita harus lebih bijak. Kita tidak mungkin hanya menggunakan perspektif satu umat. Tetapi antarumat. Tidak lagi kita hanya melihat dari sisi ajaran dan dogma sendiri, tetapi bagaimana perasaan dan dogma lain. Tidak hanya kita melihat dari masjid, tetapi juga bagaimana katedral, pura, vihara, kapel, dan tempat peribadatan lain.

Paus Benediktus adalah pemimpin Katolik, juga sekaligus pemimpin umat-umat agama lain di dunia. Sikap integritas, dan kejujurannya bisa ditunjukkan dari mundurnya beliau sebagai Paus, kemudian terpilihlah Paus Fransiskus dari Argentina.

Dua pemimpin ini unik dan berbeda dari segi pendekatan. Bahkan dalam film Netflix yang cukup popular merekam satu sisi persahabatan, saling keterkaitan, dan sekaligus perbedaan pendekatan mereka berdua.

Film The Two Popes garapan Fernando Mierelles, naskah ditulis oleh Anthony McCarthen diadaptasi dari tahun 2017. Aktor kondang Anthony Hopkins dan Jonathan Pryce memerankan keduanya. Satu Paus seorang cendikiawan Jerman, satu lagi seorang aktivis Argentina.

Penulis merasa beruntung bisa berpapasan langsung dengan keduanya. KH Yahya Kholil Staquf didampingi Dr Najib Azka menyampaikan secara langsung rasa duka itu kepada Kardinal Piero Pioppo. Setelah berbincang-bincang sejenak relasi NU (Nahdlatul Ulama) dengan Vatikan dan mengenang pepergian tokoh itu, Gus Yahya menuliskan kesannya di buku duka.

Setelah itu Dirjen Plt Bimas Katolik Kementrian Agama RI, AM Adiyarto Sumarjono, mewakili Menteri Agama H Yaqut Kholil Qoumas, yang sudah menyatakan dukanya terekam di media massa.

Penulis sendiri menyampaikan langsung, dan menulis kesan bahwa pemimpin satu umat adalah pemimpin semua umat. Seorang beriman adalah juga harus antariman.

Ungkapan duka dari semua pemimpin agama di Indonesia, dari Kristen, MUI, Muhammadiyah, NU, Hindu, Buddha dan pemimpin negara, dari Presiden, Menteri Agama, dan para pejabat menunjukkan semangat ini. Pemuka agama saat ini adalah pemuka semua agama, dan umatnya harus antaragama.

Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Kamis, 05 Januari 2023 – 12:08 WIB oleh Al Makin dengan judul “Pemimpin Antarumat dan Umat Antariman: Takziyah Paus Benediktus IXV”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here