RENUNGAN MINGGU “BERPIHAK PADA ORANG LEMAH”

0
18
Foto Artikel Relihgius
Foto Ilustrasi

OLEH : P. Gregor Neonbasu SVD

Bacaan Minggu Biasa VI : Yer 17:5-8, 1Kor 15:12.16-20, Luk 6:17.20-26

Istilah yang laris, yg sering digunakan di tempat yang salah adalah Orang Kecil Mengapa? Istilah org kecil digunakan untuk mengumpulkan amal, artinya dgn memperhatikan org kecil, sudah ada modal dasar untuk berbuat baik seperti dilakukan Tuhan Yesus dalam kisah-kisah Perjanjian Baru.

Sering kita bermain sandiwara: walau kita orang-orang kecil, namun seketika kita dapat berbagi sesuatu kepada orang-orang susah dan lemah, kita serta merta telah melakukan sesuatu yangg bermakna kepada org kecil.

Cara berpikir kita harus dirombak, tidak saja sebatas melayani org2 kecil, melainkan berbela rasa dengan org2 lemah. Mengapa?

Karya pelayanan bisa saja sebagai ruang pamer diri oleh krn kita melayani tanpa berbela rasa, kita melayani tanpa HATI, kita melayani untuk memamerkan ego atau sikap ingat diri, kita melayani utk memenuhi tuntutan sosial tanpa mengakarkannya dalam diri sendiri.

Karya pelayanan bisa terjadi di mana-mana oleh karena ketika orang-orang melihat kita menunjuk amal dengan berbagi kekayaan tanpa hati … maka orang-orang mulai berpura-pura menjadi miskin, lalu mereka mulai antrian menanti bala bantuan! Karya  pelayanan seperti ini tidak pernah menurunkan rahmat, melainkan malapetaka.

Sabda BAHAGIA… memberi dua reaksi: (1) reaksi org yg mengerti, memahami, dan menerimanya dengan tenang. (2) reaksi org yg mempertanyakannya, apakah hal itu bisa diterima oleh org yg mendengarnya.

Mengapa ada 2 sikap, dan terlebih reaksi yg kedua? Jawabannya, karena memang tidak mudah untuk dipraktekkan.

Lihat dan dengar baik-baik, kita sering tidak tahan berada dalam kesulitan atau penderitaan. Jika karya pelayanan yg dilakukan dengan alasan *agar orang-orang yg dilayani segera terbebas dari kesulitan dan persoalan, maka kita bermain sandiwara murahan.

Karya pelayanan kita tak pernah membebaskan org lain oleh karena, kita tidak memiliki sesuatu yg dpt memenuhi serta memuaskan mereka yg dilayani. Mereka yg dilayani tak pernah puas, jika kita berkutat hanyalah pada sasaran yg telah kita patok atau susun terlebih dahulu.

Oleh karena itu karya pelayanan harus direfleksi total dengan sikap berbela rasa dengan mereka yg lemah. Cara ini memberi peluang: yg lemah dapat berbela rasa dgn sesama yg lemah sehingga mereka sama-sama bangun utk selalu berdiri membangun masa depan yg baik.

Anda dapat bertanya diri, entahkah anda berbela rasa dengan hadir di tengah org2 lemah, atau anda selalu hadir di mana-mana dengan semangat berapi-api membagi sesuatu untuk mencari nama dan keuntungan spiritual bagi diri sendiri.

Jalan TUHAN, memang bukan jalan manusia! Karena itu karya pelayanan yg diatur dalam struktur dunia  harus bisa diatur ulang dalam sikap berbela rasa dari Tuhan sendiri. Dengan cara itulah kita membangun iman yang benar yaitu mengandakan TUHAN dan menaruh segala harapan kita hanya pada Telapak Tangan Kasih Tuhan.

Iman yg benar seperti ini menjadi fundasi dan alasan mencukupi untuk kita, ketika kita berbela rasa dengan mereka yg lemah

Para murid dan orang banyak yang “datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dari daerah Pantai Tirus dan Sidon,” oleh karena Yesus tidak saja mengajar mereka. TUHAN YESUS berbela rasa dengan mereka yg lemah dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang kini menangis, karena kamu akan tertawa” *(Luk 6:18-21).

Saudara dan saudariku: di sini Yesus tidak mengatakan bahwa miskin, lapar dan sengsara adalah hal yang baik.  Juga bukan maksud Yesus untuk menjelaskan tentang dari manakah datangnya kebahagiaan, yang tidak saja secara potensial telah dimiliki orang yang miskin, lapar dan sengsara.

Dalam kehidupan sehari-hari  justru sangat nyata bahwa kemiskinan, kelaparan dan kesengsaraan  tak pernah dengan sendirinya memberi suatu kebajikan atau kebahagiaa sebagai sebuah cita-cita yg sedang dikejar!

Jika org merindukan dan mencari kemiskinan, kelaparan dan kesengsaraan, spontan orang mengatakan: itu gila!

Setiap manusia harus memerangi atau memberantas kemiskinan, kelaparan dan kesengsaraan dalam hidup.

Saudara dan saudariku semua: apa pun alasannya, kita tidak pernah mau menjadi orang miskin, lapar dan sengsara. Kita hanya mau menjadi orang kaya, kenyang dan gembira di dunia ini.

Kita juga tak pernah masa bodoh dan membiarkan saja orang miskin, lapar dan sengsara.

Dalam Perjanjian Lama terdengar seruan, agar bangsa Israel bisa berbela rasa dengan orang-orang miskin. “Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah Tuhan, Allahmu akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu” (Ul 15:10).

Bila orang miskin dan lemah diabaikan, kita justru akan mendapat akibatnya: “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru” kepada Tuhan (Ams 21:13).

Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki” *(Ams 28:27).

Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa yg berbela rasa dan menaruh belas kasihan kepada orang miskin memuliakan Dia” *(Ams 14:31). (REDAKSI)

Doaku dan berkat :

P.Gregor Neonbasu SVD

Soverdi Oebufu Kupang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here